Admin
29 Desember 2025
KEJAKSAAN NEGERI BLORA
Tiga rumah warga di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora mengalami kerusakan struktural akibat pergerakan tanah yang terus berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Pergerakan ini diperkirakan disebabkan oleh gerusan aliran Sungai Lusi, yang mengikis tanah dari bagian bawah permukaan sehingga menyebabkan tanah di atasnya turun dan bergeser dengan intensitas cukup signifikan.
Warga setempat, termasuk Nur dan Janarto, menyebut bahwa fenomena tersebut terjadi secara berulang dan belum menunjukkan tanda-tanda reda. Mereka menjelaskan bahwa air yang mengalir di bawah permukaan tanah diyakini menjadi salah satu penyebab utama, sehingga upaya penimbunan yang dilakukan hampir setiap hari belum mampu menghentikan amblesnya tanah dan kerusakan pada bangunan rumah.
Pergerakan tanah ini diperkirakan telah memengaruhi area sepanjang sekitar 200 meter, dengan bagian tanah yang terdampak berada sekitar 1,5 meter di bawah permukaan, serta lokasi yang sangat dekat dengan aliran Sungai Lusi. Kondisi ini memperkuat dugaan adanya aliran air bawah tanah yang larut ke dalam struktur tanah dan menyebabkan terjadinya pergeseran atau subsidence.
Akibat fenomena tersebut, kondisi bangunan tiga rumah menjadi rusak cukup serius, sehingga dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan penghuni jika tidak ditangani segera. Kerusakan ini mencerminkan bahwa pergerakan tanah bukanlah peristiwa lokal kecil, tetapi telah mencapai tingkat yang berdampak fisik nyata terhadap hunian warga.
Menanggapi hal ini, pihak Sumber Daya Air (SDA) Pemkab Blora menyatakan akan segera melakukan **koordinasi intensif dengan pihak **Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mengkaji penyebab utama pergerakan tanah serta merumuskan langkah penanganan yang tepat. Koordinasi ini diharapkan dapat menghasilkan strategi mitigasi yang efektif, baik untuk menstabilkan area yang terdampak maupun untuk melindungi rumah dan fasilitas masyarakat di sekitar area tersebut.
Kajian yang akan dilakukan bersama meliputi pemantauan kondisi tanah dan air permukaan, pemetaan aliran sungai dan potensi erosi, serta kemungkinan penerapan teknik rekayasa sipil seperti penguatan lereng, pemasangan selokan kontrol, atau struktur penahan tanah sesuai standar mitigasi bencana geoteknik. Langkah-langkah ini penting untuk memastikan keselamatan warga dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Fenomena pergerakan tanah di Sambiroto merupakan contoh nyata tantangan bencana non-meteorologis yang sering terjadi di daerah dengan kondisi tanah labil dan aliran air bawah tanah yang tidak stabil. Penanganan yang cepat, terkoordinasi, serta berbasis data teknis menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko kerusakan infrastruktur serta potensi dampak sosial-ekonomi yang lebih luas di masa mendatang.