Admin
29 Desember 2025
KEJAKSAAN NEGERI BLORA
Warga Desa Sambongrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora berhasil menerapkan sistem pertanian modern berupa budidaya melon secara hidroponik di lahan pekarangan mereka, menunjukkan peluang besar pertanian inovatif di wilayah pedesaan. Metode ini, yang tidak memerlukan media tanah, menggunakan larutan air yang mengandung nutrisi terkontrol sebagai dasar pertumbuhan tanaman, sehingga sangat cocok diterapkan di lahan sempit maupun pekarangan rumah.
Agung Joo, pemilik TnJ Farm yang menjadi pelopor inisiatif ini, menjelaskan bahwa sistem hidroponik memungkinkan penanaman melon tanpa tergantung pada kondisi tanah. Karena nutrisi larut dalam air disuplai secara terkontrol ke akar tanaman, budidaya melon dapat dilakukan di tempat yang lebih fleksibel meskipun lahan terbatas. Menurut Agung, pendekatan ini meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus meminimalkan risiko gangguan hama tanah.
Budidaya melon hidroponik di Blora ini bukan hanya menunjukkan kemampuan warga mengadaptasi teknologi pertanian modern, tetapi juga membuka peluang baru bagi ketahanan pangan dan ekonomi lokal. Dengan hidroponik, petani bisa memaksimalkan produksi buah berkualitas tinggi dalam siklus tanam yang relatif cepat—menurut pengalaman petani, waktu panen dapat dicapai dalam beberapa bulan setelah tanam, dengan hasil yang seragam dan bobot buah yang ideal.
Pemerintah daerah sendiri melihat potensi inovasi ini sebagai kesempatan strategis untuk menguatkan rantai pasok pangan bergizi lokal di Blora. Wakil Bupati Sri Setyorini, selaku Ketua Satuan Tugas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Blora, mendorong agar petani melon hidroponik menjadi salah satu pemasok untuk Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan struktur pemasaran yang jelas, hasil pertanian lokal tidak hanya dinikmati di pasar umum tetapi juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, seperti anak sekolah atau ibu hamil melalui program MBG.
Teknologi hidroponik yang digunakan dalam budidaya melon ini juga selaras dengan tren pertanian modern yang mengutamakan kontrol nutrisi, efisiensi penggunaan air, serta perlindungan terhadap cuaca ekstrem dan hama—faktor-faktor yang berkontribusi pada produktivitas dan kualitas hasil panen yang lebih stabil dibandingkan dengan metode konvensional.
Keberhasilan budidaya melon hidroponik di Desa Sambongrejo diharapkan bisa menjadi model adopsi teknologi pertanian bagi desa lain di Blora dan sekitarnya, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan lahan atau ingin meningkatkan pendapatan keluarga melalui usaha agribisnis modern. Budi daya seperti ini tidak hanya menunjang ketahanan pangan daerah, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan sekaligus dukungan terhadap program gizi masyarakat.