Admin
29 Desember 2025
KEJAKSAAN NEGERI BLORA
Wakil Bupati Sri Setyorini mendorong agar petani melon hidroponik menjadi salah satu pemasok dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung program makan bergizi gratis (MBG).
Sri Setyorini yang juga Ketua Satgas MBG Blora mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen menghubungkan pemasaran buah lokal dengan kebutuhan SPPG agar produk pertanian setempat memiliki kepastian pasar sekaligus mendukung pemenuhan gizi masyarakat. "Nanti pemasarannya bisa kita hubungkan dengan SPPG. Kita dorong buah lokal seperti melon ini menjadi bagian dari Program Makan Bergizi Gratis," ujarnya saat meninjau hasil pertanian melon hidroponik di Desa Sambongrejo, Kecamatan Tunjungan, Sabtu, 27 Desember 2025.
Dalam kunjungan ke open greenhouse TnjFarm, Sri Setyorini yang akrab disapa Budhe Rini mengapresiasi kualitas melon hidroponik yang dihasilkan petani lokal. "Kualitasnya sangat bagus. Ini tidak boleh berhenti di sini. Harus terus dikembangkan dan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi masyarakat," ujarnya. Menurut dia, pemanfaatan produk hortikultura lokal tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak-anak dan masyarakat, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Warga Blora Berhasil Tanam Melon dengan Metode Hidroponik
Petani muda Dzaki Al Rozak menjadi sosok di balik keberhasilan budidaya melon hidroponik yang dikembangkan di green house bernama TnJ Farm miliknya. Dzaki mengungkapkan dengan sistem hidroponik, lahan terbatas seluas 10 × 14 meter dapat dimanfaatkan untuk menanam hingga 600 pohon melon dalam satu siklus tanam. Di lahan tersebut, Dzaki membudidayakan dua varietas unggul, yakni melon Sweet Lavender dan The Blues. Seluruh proses penanaman dilakukan menggunakan sistem hidroponik di dalam greenhouse sehingga pertumbuhan tanaman dapat dikontrol secara optimal.
Waktu panen pun relatif singkat, yakni sekitar 2,5 hingga 3 bulan setelah tanam, dengan berat rata- rata buah mencapai 1,5 kilogram per buah dan kualitas yang seragam. "Melalui sistem hidroponik, kualitas buah lebih terjaga, penggunaan air lebih efisien, serta tanaman lebih terlindungi dari cuaca ekstrem maupun serangan hama," ujarnya.
Selain itu, pengaturan nutrisi, kelembaban dan pencahayaan dapat dilakukan secara presisi sehingga produktivitas tanaman lebih maksimal. Dzaki menambahkan budidaya melon hidroponik tersebut telah berjalan selama satu tahun dengan modal awal berkisar Rp50-60 juta. Panen kali ini merupakan panen ketiga yang berhasil dilakukan. Hasil panen pun telah dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Tengah seperti Rembang, Grobogan, Pati, Semarang, Brebes, dan Pekalongan, serta ke sejumlah wilayah di Jawa Timur, antara lain Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Surabaya dan Malang.
Menurut Dzaki, keberhasilan ini membuktikan bahwa pertanian berbasis teknologi dapat diterapkan secara efektif di wilayah pedesaan dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa pertanian modern bisa dimulai dari lahan pekarangan. Harapannya, ini bisa menjadi inspirasi bagi petani lain, khususnya generasi muda, untuk terjun ke sektor pertanian berbasis teknologi," ujarnya.