Admin
29 Desember 2025
KEJAKSAAN NEGERI BLORA
Pembangunan embung pada dasarnya merupakan kebijakan yang patut diapresiasi. Sebagai infrastruktur penampung air hujan, embung memiliki fungsi penting dalam mendukung sektor pertanian, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air permukaan. Dalam banyak kondisi, embung mampu menjadi cadangan air bagi lahan pertanian di sekitarnya dan membantu petani bertahan di musim kemarau. Namun persoalan ketersediaan air di Kabupaten Blora tidak dapat dipandang sebagai masalah yang bersifat lokal atau sesaat. Sebagian besar wilayah Blora merupakan lahan pertanian tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan. Ketika hujan datang terlambat atau tidak merata, pertanian langsung berada dalam kondisi rawan, mulai dari kekeringan hingga ancaman gagal panen. Situasi tersebut kini tengah dirasakan di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Banjarejo, Ngawen, dan sekitarnya. Di tengah waktu yang secara kalender seharusnya sudah memasuki musim penghujan, ratusan hektar tanaman padi justru mengalami kekeringan cukup parah. Tanah sawah mulai retak, pertumbuhan tanaman terhambat, dan kondisi tanaman padi mulai mengkhawatirkan. Ancaman gagal panen pun semakin nyata di depan mata petani.
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, sebagian besar petani tidak memiliki sumber air alternatif yang memadai. Tanpa sumur sawah, jaringan irigasi sederhana, atau cadangan air lainnya, para petani hanya bisa pasrah menanti hujan turun. Ketergantungan penuh pada cuaca ini menjadi potret kerentanan pertanian tadah hujan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Dalam konteks inilah, kebijakan pembangunan infrastruktur sumber daya air perlu ditempatkan secara lebih proporsional. Pembangunan embung bukanlah pilihan yang keliru. Namun ketika anggaran daerah terbatas, pemerintah daerah dihadapkan pada tantangan untuk menentukan prioritas kebijakan yang mampu memberikan manfaat lebih luas. Infrastruktur yang bersifat terpusat dan berbiaya besar tentu memiliki nilai strategis, tetapi belum tentu menjawab kebutuhan mayoritas petani yang tersebar di berbagai kecamatan. Anggaran 8 miliar untuk membangun sebuah embung, tentu sangat bermanfaat bagi pertanian. Tetapi cakupan manfaatnya hanya dirasakan oleh beberapa petani sekitar. Tak lebih dari radius dua kilometer dari embung. Dengan anggaran yang sama, misalnya, pemerintah bisa membangun ribuan sumur sawah yang manfaatnya bisa menyentuh ribuan petani di berbagai wilayah.
Pendekatan pembangunan sumber daya air yang lebih menyebar dan langsung menyentuh lahan pertanian rakyat patut dipertimbangkan secara serius. Pembangunan sumur-sumur sawah, long storage skala desa, serta sistem irigasi sederhana berbasis kelompok tani dapat menjadi solusi pelengkap yang relatif lebih murah, cepat dirasakan manfaatnya, dan efektif mengurangi risiko kekeringan. Infrastruktur semacam ini memungkinkan air hadir lebih dekat dengan sawah petani, terutama di wilayah-wilayah rawan kekeringan. Ke depan, pembangunan infrastruktur air di Blora perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih berimbang dan adaptif terhadap perubahan iklim. Embung tetap penting dan perlu dibangun di lokasi-lokasi strategis, tetapi tidak bisa menjadi satu-satunya jawaban. Diperlukan pemetaan wilayah rawan kekeringan yang lebih akurat, integrasi kebijakan air dengan perencanaan pertanian, serta pelibatan aktif kelompok tani agar infrastruktur yang dibangun benar-benar berfungsi dan berkelanjutan.
Keterbatasan anggaran daerah semestinya menjadi momentum untuk memperkuat kualitas kebijakan, bukan sekadar memperbesar skala proyek. Setiap rupiah anggaran publik idealnya diarahkan untuk menjawab persoalan paling mendesak yang dihadapi masyarakat. Dalam konteks pertanian Blora, persoalan tersebut adalah ketersediaan air di tingkat sawah. Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan pertanian tidak diukur dari besar kecilnya proyek yang dibangun, melainkan dari seberapa jauh kebijakan tersebut mampu menjawab persoalan nyata di lapangan. Embung memang penting, tetapi bagi petani yang sawahnya mulai mengering dan tanamannya terancam gagal panen, air yang benar-benar mengalir ke lahan mereka adalah kebutuhan yang paling mendesak.