Admin
18 Desember 2025
KEJAKSAAN NEGERI BLORA
Pasca insiden dugaan keracunan massal akibat menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa di tiga SMP di Kabupaten Blora, nasib dapur penyedia MBG SPPG Karangjati 1 kini masih menunggu keputusan dari Badan Gizi Nasional (BGN) Pusat. Korwil SPPG Blora, Artika Diannita, menyatakan bahwa hasil uji laboratorium dari Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Semarang telah diserahkan ke BGN untuk dievaluasi. Keputusan dari BGN akan menentukan langkah lanjutan terkait status operasional dan kelayakan dapur tersebut untuk kembali memberikan layanan MBG.
Sejak insiden tersebut, operasional dapur SPPG Karangjati 1 masih dihentikan sementara, membuat ribuan penerima manfaat — sekitar 3.416 siswa — tidak menerima program MBG. Penghentian ini bukan hanya berdampak pada siswa yang biasanya mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga menimbulkan kekosongan layanan dukungan gizi di sekolah-sekolah sasaran di wilayah Blora.
Terkait anggaran yang telah diterima oleh mitra penyedia MBG dari BGN, pihak Korwil menyatakan bahwa dana yang sudah dicairkan akan dikembalikan ke kas negara, karena tidak ada layanan yang dapat diberikan sejak dapur berhenti beroperasi. Langkah ini menunjukkan tanggung jawab administratif meskipun program sementara tidak berjalan.
Selain itu, Artika juga mengimbau kepada seluruh dapur SPPG di kabupaten untuk meningkatkan pengawasan terhadap kebersihan alat, kualitas air, dan bahan makanan yang digunakan dalam menu MBG, guna menghindari terulangnya insiden serupa. Imbauan ini menjadi refleksi penting agar standar sanitasi dan proses pengolahan makanan berjalan sesuai dengan protokol kesehatan dan keamanan pangan.
Kasus keracunan itu sendiri bermula setelah hasil uji menunjukkan adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel makanan, air, dan peralatan dapur yang dikirimkan untuk analisis laboratorium. Temuan ini menjadi dasar bagi evaluasi lebih lanjut, dan kini BGN pusat memegang peran penting untuk menentukan nasib lanjut SPPG Karangjati 1.
Kisah SPPG Karangjati 1 yang berhenti operasional pasca insiden keracunan MBG menggarisbawahi betapa pentingnya protokol keamanan pangan yang ketat dan pengawasan menyeluruh dalam program layanan publik yang menyentuh kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Keputusan BGN yang tengah dinanti akan menjadi momen penting untuk menentukan apakah dapur tersebut bisa kembali beroperasi dengan perbaikan menyeluruh atau harus ditata ulang sesuai standar yang lebih tinggi. Semoga proses evaluasi ini memberi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk memperkuat sistem pengawasan pangan di setiap dapur penyedia MBG — demi keselamatan, kesehatan, dan kepercayaan masyarakat terhadap program yang sangat dibutuhkan ini.