Admin
10 Desember 2025
KEJAKSAAN NEGERI BLORA
Setelah insiden keracunan massal yang terjadi pada 25 November 2025 — ketika belasan hingga ratusan siswa di beberapa sekolah menerima paket Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur SPPG Karangjati 1 — nasib dapur penyedia MBG ini menjadi sorotan serius.
Pihak pengelola, melalui Korwil SPPG Blora, menyatakan bahwa operasional Karangjati 1 dihentikan sementara sejak peristiwa tersebut. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya penanganan awal, sambil menunggu hasil investigasi dan uji laboratorium menyeluruh. Semua distribusi MBG dari dapur tersebut ditangguhkan — artinya, ribuan penerima manfaat, terutama siswa di sekolah-sekolah yang biasanya menerima MBG, otomatis terhenti mendapat layanan sementara.
Menurut hasil pemeriksaan dari pihak kesehatan — yakni Dinas Kesehatan Daerah Blora (Dinkesda Blora) bersama laboratorium — ditemukan bahwa sampel makanan dan air dari dapur Karangjati 1 mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli), termasuk pada menu yang dibagikan seperti ayam woku, tumis sayur, buah melon, serta air dapur.
Pencemaran ini diduga berasal dari proses pengolahan dan distribusi makanan yang tidak memenuhi standar kesehatan — mulai dari pemasakan yang kurang matang, kurangnya kebersihan bahan atau alat masak, hingga sanitasi air yang digunakan.
Akibatnya, dampak cukup luas: sejumlah siswa mengalami gejala keracunan seperti diare, mual, muntah, pusing — dengan sebagian harus dirawat inap atau rawat jalan.
Pihak sekolah dan SPPG langsung melakukan langkah mitigasi: menu MBG yang tersisa ditarik kembali, siswa dipulangkan lebih awal, dan distribusi dihentikan sementara sampai semua hasil uji laboratorium keluar.
Selain itu, sebagai tindak lanjut, hasil laboratorium dan kronologi kejadian telah dilaporkan ke Badan Gizi Nasional (BGN) — sebagai otoritas pusat yang mengawasi program MBG — untuk evaluasi lebih lanjut dan keputusan apakah dapur bisa kembali diaktifkan atau harus dicabut izin operasionalnya.
Situasi ini menjadi peringatan bagi semua pihak terkait: program MBG memang bertujuan mulia — membantu pemenuhan gizi siswa — tetapi kualitas sanitasi, pengolahan makanan, dan distribusi harus dijaga ketat. Insiden di Blora menunjukkan bahwa kelalaian sekecil apa pun bisa berakibat fatal bagi kesehatan anak-anak.
Kasus di SPPG Karangjati 1 menggarisbawahi bahwa program bantuan makanan gratis seperti MBG tidak boleh dijalankan sekadar formalitas — aspek kebersihan, sanitasi, dan standar pengolahan makanan harus menjadi prioritas paling utama. Penghentian operasional dan evaluasi menyeluruh perlu dilakukan agar kepercayaan publik pulih, dan yang terpenting: agar keselamatan dan kesehatan siswa tetap terjaga. Semoga proses investigasi dan evaluasi ini dapat menjadi titik awal perbaikan bagi seluruh dapur penyedia MBG di Blora.