Admin
02 Desember 2025
KEJAKSAAN NEGERI BLORA
Sebanyak empat siswa pelaku bullying di SMPN 1 Blora, Jawa Tengah, telah dipindahkan ke sekolah lain dan dikenakan sanksi berupa pembatasan penggunaan ponsel di bawah pengawasan Dinas Pendidikan (Disdik) Blora. Langkah ini diambil untuk mencegah terulangnya tindakan bullying di lingkungan sekolah. Bupati Blora, Arief Rohman, mengungkapkan bahwa para pelaku telah dipanggil untuk mendapatkan pembinaan bersama dengan orang tua mereka. "Siswa yang bullying sudah dipindah sekolah. Kita juga lakukan pembinaan kepada orangtuanya agar tidak terulang lagi," kata Arief seusai penandatanganan MoU dan PKS antara Kejaksaan dan Pemerintah Daerah se-Jateng di kompleks Gubernur Jateng, Senin (1/12/2025). Meskipun demikian, Arief tidak merinci alasan pemindahan para pelaku bullying tersebut. Ia menekankan bahwa langkah ini diambil untuk melindungi korban. "Korban tetap kita lindungi. [Pelaku] juga kita ketati penggunaan hp-nya, kita kontrol," ungkapnya.
Terekam video
Kasus perundungan ini mencuat setelah beredarnya video berdurasi 25 detik yang menunjukkan sekelompok siswa berseragam pramuka mengerubungi seorang siswa yang mengenakan kaus olahraga. Dalam rekaman tersebut, salah satu siswa berseragam pramuka terlihat memukul dan menendang siswa tersebut, sementara siswa lainnya tidak berusaha melerai. Insiden bullying ini terjadi di kamar mandi sekolah saat jam istirahat pada Jumat, 7 November 2025. Baca juga: Polisi Tak Temukan Hal Janggal di Isi Ponsel Remaja Pembunuh Ayah dan Nenek di Lebak Bulus Setelah kejadian, pihak sekolah telah mempertemukan kedua belah pihak untuk mediasi. Polres Blora, Jawa Tengah, juga terus mengusut kasus ini. Hingga saat ini, 37 siswa dan empat guru telah dimintai keterangan. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa masalah ini dipicu oleh salah paham.
Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, menyatakan bahwa berdasarkan pemeriksaan yang sedang dilakukan, aksi perundungan ini diduga terjadi akibat salah paham antara korban, DF, dan pelaku, GB. "Diduga salah paham karena dituduh pernah berkelahi, padahal tidak," kata dia. Pihak kepolisian juga telah meminta keterangan dari 37 siswa yang hadir dengan didampingi orang tua mereka, serta mengambil keterangan dari beberapa guru di sekolah tersebut. "Untuk yang sudah diperiksa, ada empat guru yang sudah diperiksa, termasuk wali kelasnya," tambahnya.