Admin
02 Desember 2025
KEJAKSAAN NEGERI BLORA
Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Blora menjadi momentum tegas untuk mengevaluasi capaian dan memperkuat aksi nyata. Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, atau yang akrab disapa Budhe Rini, secara keras menegaskan bahwa berbagai disrupsi global tidak boleh menjadi alasan untuk melonggarkan upaya mencapai target Ending AIDS 2030.
Soroti Data Epidemi dan Kerentanan.
Wakil Bupati tidak segan memaparkan data epidemi HIV di Blora yang fluktuatif sebagai alarm kewaspadaan:
· 2022: 213 kasus
· 2023: 190 kasus
· 2024: 212 kasus
· 2025 (hingga saat ini): 145 kasus (mengalami penurunan signifikan)
Meski ada penurunan pada 2025, Sri Setyorini mengingatkan bahwa 58% dari total kasus tahun ini berasal dari kelompok usia produktif (25-49 tahun) dan 21% merupakan pendatang. “Angka-angka ini adalah pesan keras. Penanganan HIV tidak boleh kendor. Edukasi, deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, dan penghapusan stigma harus terus digenjot,” tekannya.
Transformasi Layanan dan Penguatan Kolaborasi Jadi Kunci.
Budhe Rini kembali menekankan tiga pilar transformasi: memperkuat tata kelola kesehatan, meningkatkan efisiensi pendanaan, dan memberdayakan komunitas sebagai mitra utama. “Komitmen kami tegaskan: layanan harus inklusif, manusiawi, dan mudah diakses, terutama bagi kelompok rentan. Stigma dan diskriminasi harus dihapus,” ujarnya. Ia juga menggarisbawahi bahwa perjuangan melawan AIDS bukan tugas pemerintah semata. “Dibutuhkan kolaborasi brutal lintas sektor: pemerintahan, pendidikan, tokoh agama, organisasi pemuda, hingga keluarga. Tanpa ini, keberlanjutan layanan dan perlindungan kelompok rentan akan sulit tercapai,” tambahnya.
Dukungan Moral dan Penegasan Nilai Kemanusiaan.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Blora, Hj. Ainia Shalichah, dalam intervensinya memberikan dukungan moral yang mendalam kepada para penyintas HIV. Dengan penuh ketegasan, ia menyatakan, “Allah SWT tidak melihat status, sehat atau sakitnya kita. Yang dilihat adalah hati dan ikhtiar kita. Setiap manusia memiliki nilai yang sama.” Ainia mengapresiasi keteguhan hati para penyintas dan mendorong terciptanya lingkungan yang aman dan inklusif. “Organisasi dan komunitas harus menjadi wadah untuk saling menguatkan. Keberlanjutan layanan—dari akses obat hingga pendampingan psikososial—harus dijamin tanpa diskriminasi,” tegasnya. Peringatan Hari AIDS Sedunia di Blora ini ditutup dengan penyampaian apresiasi setinggi-tingginya kepada tenaga kesehatan, relawan, dan komunitas peduli HIV. Pesan utamanya jelas: Blora menolak komplaiensi. Di tengah tantangan global, aksi kolektif yang lebih keras, terukur, dan berkelanjutan mutlak diperlukan untuk mengakhiri epidemi AIDS pada 2030.